Pohon Kudo di Halaman Rumah

Saya suka pohon-pohon besar, salah satunya pohon beringin (Ficus benjamina). Dekat dengan rumah kami terdapat sebuah pohon beringin yang sangat besar di area bekas sanatorium. Dulu saya dan adik-adik suka bermain ke sana saat bangunan di sana masih didiami oleh Pak RT masa itu. Sayangnya bangunan tua itu sudah dirobohkan. Walaupun pohon beringinnya masih tegak berdiri, kami sudah lama tidak ke sana, hanya memandangnya dari luar pagar saat sesekali lewat.

pohon_beringin

Di halaman depan rumah kami tumbuh sebuah pohon kudo yang kian besar dan rindang. Tak kalah rindang dengan pohon beringin dan saya harap bisa menjadi tempat tinggal bagi burung-burung. Akan menyenangkan sekali jika melihat sarang burung terjalin di cabang-cabangnya.

Dulunya pohon itu tidak ada. Saya awalnya mengira pohon itu ada di pekarangan tetangga. Tapi saat mulai tumbuh besar, barulah saya sadar pohon itu tumbuh di halaman kami. Pohon tersebut menciptakan iklim mikro yang sejuk di halaman rumah kami. Di tengah pemanasan global dan perubahan iklim yang sedang berlangsung, sudah seharusnya kita menjaga keberadaan pohon-pohon rindang.

(baca cerita pendek saya yang terinspirasi dari pohon beringin di sanatorium, di link ini)

Tinggalkan komentar

Filed under Kebun

Drainase untuk Kebun

Musim kemarau yang cukup panjang kali ini membuat kebun kami jadi gersang. Tidak banyak tumbuh rumput-rumput liar, tapi tanaman yang kami tanam nampak kurang segar walaupun sudah disiram. Mungkin karena volume penyiraman yang kurang banyak karena dalam beberapa hari kami sempat kesulitan air. Memasuki bulan Nopember, kami bersyukur hujan mulai turun.

Tanah di kebun kami termasuk jenis tanah latosol berwarna cokelat. Saat musim hujan, jenis tanah ini mudah mengikat air dalam jumlah besar sehingga menyebabkannya jadi liat. Hal tersebut akan mengurangi suplai oksigen untuk akar tanaman dan menyebabkan akar tanaman sulit menembus tanah. Sementara itu, di cuaca yang panas atau musim kemarau, jenis tanah ini dapat menjadi sekeras batu, membuatnya sulit digemburkan.

Untuk mengatasi kelebihan air selama musim hujan mendatang, kami membuat  drainase sederhana di kebun berdasarkan panduan yang saya peroleh dari The Gardening Year. Pertama-tama, kami membuat lubang sedalam 50 cm dengan alat biopori. Lalu ke dalam lubang diisi dengan batu-batu berukuran kecil hingga setengahnya. Di atasnya diberi lapisan daun-daun kering, kemudian ditutup lagi dengan tanah. Kami sudah membuat 10 titik drainase di kebun dengan jarak antardrainase sekitar 2 m.

IMG_20151107_081823

IMG_20151107_083423

Penanganan berikutnya, yang secara bertahap sudah kami lakukan, adalah pemberian materi organik, yaitu kompos dan pupuk kandang. Materi organik dapat memperbaiki struktur dan warna tanah, serta meningkatkan drainase dan aerasi pada tanah.

Tanah latosol merupakan jenis tanah yang cukup subur dan cocok untuk pertanian. Dengan penanganan dan pengolahan yang baik, tanah jenis ini akan memberikan hasil yang maksimal.

Semangat berkebun!

Tinggalkan komentar

Filed under Kebun

Rindang Pohonnya, Lezat Buahnya

Di area sekolah kami banyak ditanam pohon buah. Pohon-pohon tersebut ditanam sekitar 4,5 tahun yang lalu, sejak sekolah kami berdiri.

Di taman depan, setiap siswa maupun pengunjung akan disambut oleh pohon sukun yang berdiri dekat gerbang sekolah. Di tengah halaman depan, sepanjang jalur batas parkir terdapat bermacam-macam pohon buah. Pada jalur pertama yang sejajar dengan gerbang sekolah terdapat pohon jambu dan rambutan. Pada jalur kedua terdapat pohon jambu biji, duwet putih, dan ara. Beberapa di antaranya sudah bisa dinikmati buahnya.

Di area gazebo terdapat pohon mangga madu, pepaya, dan kersen. Masuk ke halaman samping sekolah, terdapat deretan pohon jeruk pecel, sirkaya, mangga, belimbing wuluh, jeruk bali, rambutan, dan pepaya. Ketika sudah berbuah, buah-buah tersebut tidak akan bertahan lama di pohon karena ada saja yang mengambil. Hitung-hitung perbaikan gizi.

Keberadaan pohon-pohon tersebut membuat suasana sekolah menjadi sejuk dan buahnya pun dapat dinikmati. Selain itu, berbagai jenis hewan mulai bermunculan sehingga tercipta ekosistem yang semakin kompleks.

Sebenarnya masih ada beberapa pohon buah lagi, tapi saya tidak tahu namanya. Informasi akan saya tambahkan setelah tahu pohon apa saja yang belum saya sebutkan. Winking smile

Tinggalkan komentar

Filed under Kebun

Kebun Unyu di Sekolah

IMG_20150617_073652

Di salah satu sudut halaman sekolah kami, sepetak kecil tanah diubah menjadi kebun tanaman obat. Sekitar setahun yang lalu, lahan yang awalnya tak terawat itu, dibuat bedengan-bedengan oleh tukang kebun sekolah. Sebelum dibedeng telah ada beberapa tanaman obat yang ditanam oleh teman-teman saat tahun ajaran baru. Namun, karena belum ada pembagian tugas untuk merawat kebun, ada tanaman yang mati karena kering. Tanaman yang masih bisa diselamatkan dipindahkan ke bedengan.

Sejak itu perawatan kebun tanaman obat dilakukan bergilir oleh semua kelas. Kegiatan ini berjalan selama satu semester. Tetapi melihat dari efektifitasnya, karena tidak semua murid terlibat, pada semester berikutnya dilakukan perekrutan untuk membuat tim kebun tanaman obat yang lebih solid. Maka, sejak bulan April 2015, mulailah terbentuk tim kebun tanaman obat, atau disebut tim Kebun Unyu.

IMG_20150407_151359

Kegiatan rutin yang kami lakukan adalah penyiraman tanaman setiap pagi hari dan pulang sekolah. Saat itu tidak semua anggota terlibat, tetapi bergantian. Sedangkan, pertemuan akbar tim Kebun Unyu dilakukan tidak rutin, setidaknya minimal satu bulan sekali. Saat semua anggota tim berkumpul, biasanya kami membersihkan kebun dari rumput-rumput liar, membuat kompos, menggemburkan tanah, dan diskusi terkait pengembangan kebun.

IMG_20150409_154205

IMG_20150617_090757

Memasuki tahun ajaran baru, anggota tim kebun semakin bertambah dari kelas XI, sementara kakak-kakak kelas XII tidak bisa terlibat dalam perawatan kebun karena sedang praktik kerja industri. Berikutnya kami juga ingin merekrut adik-adik kelas X yang tertarik untuk merawat dan mengembangkan kebun tanaman obat bersama kami. Salam Kebun Unyu.

IMG_20150602_085611

Tinggalkan komentar

Filed under Kebun

Buah Kersen, si Mungil Besar Manfaat

E. W. M Verheij dan R. E. Coronel dalam Plant Resources of South-East Asia menuturkan buah kersen Muntingia calabura mengandung protein (2,1 gram), karbohidrat (17,9 gram), serat (6 gram), kalsium (125 mg), fosfor (94 mg), niasin (0,554 gram), vitamin A (0,015 gram), dan vitamin C (80,5 mg).

Selain bergizi, buah anggota famili Eleocarpaceae itu ternyata juga berkhasiat menurunkan gula darah penderita diabetes mellitus, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Tyas Eka Verdayanti dari Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur, pada 2009. Tyas Verdayanti menggunakan buah kersen matang dan dibuat jus tanpa menambahkan air atau 100% buah kersen.

Dalam riset tersebut, dia memberikan dosis yang berbeda pada tikus wistar jantan berumur 3 bulan berkadar gula darah di atas 200 mg/dl. Hasilmya perlakuan selama 21 hari mampu menurunkan kadar gula darah tikus berbobot rata-rata 200 g. Penurunan paling tinggi pada dosis 4 ml yaitu dari 214,414 mg/dl menjadi 110,811 mg/dl.

Senyawa paling berperan sebagai antidiabetes adalah niasin yang berfungsi menekan gula darah. Selain niasin, buah kersen mengandung asam askorbat  dan betakaroten. Senyawa tersebut bersifat antioksidan yang mampu menghambat radikal bebas sehingga mampu menyehatkan tubuh terutama pankreas.

Selain buah, daun kersen juga berkhasiat mengatasi diabetes. Riset oleh Dr. Ahmad Ridwan dan Rakhmi Ramdani dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung, membuktikan ekstrak etanol daun kersen manjur mengatasi diabetes mellitus. Mereka menggunakan dosis 0,13 mg per gram bobot tubuh yang mampu menurunkan gula darah sebesar 48,3% dalam waktu 15 hari.

Dengan demikian, baik buah maupun daun kersen terbukti menurunkan gula darah, tetapi jika dikonsumsi berlebihan bisa menyebabkan hipoglikemia atau gula darah rendah.

Sumber: Buah Lezat Musuh si Manis. Bondan Setyawan. Trubus Edisi 525 Agustus 2013/XLIV.

Tinggalkan komentar

Filed under Kesehatan

Pasangan Serasi Jati dan Mikoriza

Banyak interaksi terjadi di ekosistem. Salah satu contohnya adalah interaksi antara pohon jati (Tectona grandis) dengan mikoriza arbuskula. Mikoriza merupakan sejenis cendawan yang hidup di perakaran tanaman. Cendawan mikoriza arbuskula (CMA) memperbesar bibit jati hingga 3 m dalam 6 bulan. Tanpa makhluk mungil itu, tinggi tanaman cuma 1 m dalam waktu sama.

Mikoriza arbuskula mudah diperoleh, teknologi produksinya mudah dan sederhana. Mikoriza juga adaptif dan mampu berikatan dengan berbagai jenis tanaman, sampai 97% famili tanaman darat. Selain itu pemanfaatannya efektif dan tidak meninggalkan residu kimiawi sehingga bebas polusi. Kehadiran mikoriza juga memperbaiki granulasi tanah.

Jika diibaratkan, mikoriza itu seperti juru masak alias koki. Jati (Tectona grandis) penikmat hasil masakan. Hubungan mereka merupakan simbiosis mutualisme alias saling menguntungkan. Mikoriza memerlukan inang untuk hidup. Makhluk liliput itu menetap di perakaran jati dan di sanalah mikoriza memperoleh amilum hasil fotosintesis daun jati untuk menopang hidupnya. Pada saat bersamaan, cendawan memberikan partikel hara makro dan mikro melalui hifa.

Hifa alias benang halus mikoriza dapat berubah bentuk menjadi spora. Ketika akar jati tak mampu mengangkut unsur hara, hifa mengambil alih peran itu. Hifa mikoriza seperti perpanjang bulu akar. Ukuran hifa mikoriza (0,01 mm) jauh lebih kecil ketimbang bulu akar—lebih dari 1 mm—menyebabkan hifa leluasa menembus butiran tanah dan menyerap unsur hara. Mikoriza menyerap nitrogen dari udara dan memeras unsur fosfor dan kalium dari tanah lalu memberikan kepada tanaman. Hasilnya, tanaman yang hidup bersama mikoriza tumbuh subur.

Mikoriza bukan cuma bermanfaat ketika hidup. Saat hidupnya berakhir, mikoriza menjadi biomas yang ujung-ujungnya memberikan nutrisi untuk tanaman inangnya.

Dari cara mengikat akar, ada dua jenis mikoriza: ektomikoriza dan endomikoriza. Hifa ektomikoriza menginokulasi akar di satu titik, lalu terulur memanjang keluar. Sedangkan hifa endomikoriza menginokulasi akar di beberapa titik, lalu membelit dan membungkusnya. Contoh endomikoriza adalah CMA alias cendawan mikoriza arbuskular. Contoh ektomikoriza di antaranya mikoriza Glomus aggregatum.

 

Sumber: Koki Cilik untuk sang Bangsawan. Argohartono Arie Raharjo. Trubus Edisi 490 September 2010/XLI

Tinggalkan komentar

Filed under Artikel

Bahagia dengan Makan Pisang

Pisang adalah nama umum yang diberikan pada tumbuhan berdaun besar memanjang dari suku Musaceae. Beberapa jenisnya (Musa acuminata, M. balbisiana, dan M. paradisiaca) menghasilkan buah konsumsi yang dinamakan sama.

Pisang buah dibagi menjadi empat golongan. Pertama, pisang yang dapat dimakan langsung setelah matang atau dikenal dengan banana. Contohnya pisang susu, pisang hijau, pisang mas, pisang raja, pisang ambon kuning, pisang ambon lumut, pisang barangan, pisang seribu, pisang cavedish. Golongan banana mempunyai bentuk buah yang ujungnya tumpul dan rasa buahnya yang enak jika sudah matang.

Kedua, pisang yang dapat dimakan setelah diolah terlebih dahulu (plantain). Contohnya pisang tanduk, pisang nangka, pisang oli, pisang kepok, pisang kapas, pisang siam, dan pisang bangkahulu. Golongan plantain mempunyai bentuk buah yang ujungnya runcing, permukaan, buah mengkilap, berkadar pati tinggi, dan beraroma kurang tajam.

Ketiga, pisang yang dapat dimakan langsung setelah masak atau setelah diolah terlebih dahulu, seperti pisang kepok dan pisang raja. Keempat, pisang yang dapat dimakan ketika masih mentah, seperti pisang klutuk (pisang batu) yang berasa sepat dan enak untuk rujak. Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Kesehatan