i want to be…

Aku melihatnya, seorang berpenampilan lusuh yang kadang terlihat di antara pepohonan. Wajahnya tidak tampak karena selalu tertutup bayangan pepohonan.
Aku bertanya-tanya, apa yang dilakukannya di sana, di tengah hutan yang gelap?
Aku pernah mendengar tentang penjaga di dalam hutan. Apakah dia?
Suatu hari aku bertanya pada kakek, “Apakah hutan itu milik penjaga hutan?”
Kakek menjawab dengan suara tuanya, “Tidak, hutan itu bukan milik siapa pun, hutan adalah milik hutan sendiri. Penjaga hutan hanya membantu menjaganya agar tidak terjadi hal yang buruk pada hutan.”
Aku bertanya lagi, “Lalu, di mana penjaga hutan tinggal? Apakah dia punya rumah di tengah hutan atau di tempat lain?”
Kakek kembali menjawab, “Penjaga hutan tinggal bersama hutan, hutan adalah rumahnya.”
Aku terdiam. Masih adakah orang seperti itu?
Setiap hari aku melihat ke arah hutan, berharap melihat kelebat sosok penjaga hutan. Saat itulah aku merasa aman dan tidak khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pada hutan.

Suatu sore kakiku terperosok ke dalam lubang perangkap ketika sedang berjalan-jalan sore di perbatasan hutan dan perkebunan. Lukanya cukup dalam dan lebar. Aku terduduk mengerang kesakitan di tanah, tidak berani bergerak. Lalu, seseorang menghampiriku. Seketika aku menjadi lega. Tapi, orang itu bukan orang yang biasa kulihat dan bukan orang yang kukenal. Penampilannya lusuh, dia berjalan dengan mantap ke arahku.
Aku memperhatikannya berlutut di depanku, mengamati luka di kakiku. Untuk sesaat aku hampir tidak mempedulikan luka itu. Orang yang menolongku berwajah keras, seperti telah menghadapi segala macam hal yang ada di dunia ini. Namun, tatapan matanya lembut dan berbinar cerah.
Aku tidak sadar dia telah mengeluarkan sesuatu dari tas kecil di pinggangnya dan menutupkannya ke lukaku. Aku menjerit karena rasanya sangat perih.
“Itu akan membantu mengeringkan lukanya.”
Aku tidak akan pernah melupakan suaranya yang dalam dan tegas. Setelah membalut lukaku dengan kain bersih yang dikeluarkan dari tasnya, dia membantuku berdiri.
“Aku akan mengantarmu sampai ke rumah.”
“Tapi hutannya… .”
Senyum terulas di wajahnya yang keras, membuatnya tampak lebih kebapakan.
“Hutan akan baik-baik saja ditinggal sebentar, menolong orang yang butuh pertolongan lebih penting.”
Penjaga hutan itu benar mengantarku sampai ke rumah. Dia meninggalkan sekantong kecil berisi daun-daunan yang bisa digunakan untuk mengobati lukaku.
“Lain kali berhati-hatilah,” ujarnya sebelum berbalik pergi.
Aku tidak bisa berkata banyak selain, “Terima kasih,” walaupun sebenarnya banyak sekali hal yang ingin kutanyakan.
Sejak itu aku berpikir apakah aku juga bisa seperti dia, menjadi seorang penjaga hutan.
“Berkat penjaga hutan, hutan masih tetap ada hingga kini,” aku mendengar kakek berkata.

Inspired from LOTR-The Fellowship of the Ring
2007

Tinggalkan komentar

Filed under Kisah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s