Category Archives: Kebun

Mengenal Manfaat Pohon Jarak Tintir atau Pohon Yodium

Bagi yang tidak akrab dengan nama jarak tintir, tanaman ini memiliki beberapa nama lain di antaranya adalah pohon betadine dan pohon yodium. Saya sendiri saat masih kecil mengira namanya adalah pohon tlutuh. Ternyata tlutuh adalah bahasa Jawa dari getah. Dulu ketika saya terluka, orangtua saya sering bilang “dikasih tlutuh”, maksudnya adalah diberi getah dari pohon yodium yang bermanfaat untuk mengobati luka luar.

IMG_20170909_095736Berikut ini klasifikasi ilmiah dari jarak tintir

Kingdom: Plantae

Subkingdom: Tracheobionta

Superdivisi: Spermatophyta

Divisi: Magnoliophyta

Kelas: Magnoliopsida

Subkelas: Rosidae

Ordo: Euphorbiales

Famili: Euphorbiaceae

Genus: Jatropha

Spesies: Jatropha multifida L.

Saya sudah jarang menjumpai pohon yodium di lingkungan tempat tinggal saya. Beberapa tahun yang lalu, saat kami masih aktif merawat kebun unyu, kami menanam pohon yodium yang masih kecil. Ternyata pohon itu sekarang sudah besar. Karena tidak dipangkas, batangnya tumbuh memanjang sehingga menjadi mirip pohon ketela, tapi berbunga merah. Batangnya mudah dibengkokkan sehingga saya bisa meraih daunnya.

IMG_20170909_100223

Sebenarnya lebih baik kalau pohon ini dipangkas sehingga batangnya tidak terlalu tinggi. Maka, daunnya bisa menjadi lebih banyak dan sewaktu-waktu tangkai daunnya bisa diambil dengan mudah agar getahnya bisa digunakan untuk mengobati luka luar. Cara mengambilnya yaitu patahkan ujung tangkai daun yang tersambung dengan batang. Getah akan langsung menetes dari ujungnya. Cukup meneteskan atau mengoleskannya ke luka. Rasanya agak perih, tapi tidak seperih saat menggunakan obat merah. Getahnya yang mengandung senyawa alkaloid jatrophine akan menghentikan pendarahan dan mengeringkan luka dengan cepat.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Kebun, Kesehatan

Pohon Kudo di Halaman Rumah

Saya suka pohon-pohon besar, salah satunya pohon beringin (Ficus benjamina). Dekat dengan rumah kami terdapat sebuah pohon beringin yang sangat besar di area bekas sanatorium. Dulu saya dan adik-adik suka bermain ke sana saat bangunan di sana masih didiami oleh Pak RT masa itu. Sayangnya bangunan tua itu sudah dirobohkan. Walaupun pohon beringinnya masih tegak berdiri, kami sudah lama tidak ke sana, hanya memandangnya dari luar pagar saat sesekali lewat.

pohon_beringin

Di halaman depan rumah kami tumbuh sebuah pohon kudo yang kian besar dan rindang. Tak kalah rindang dengan pohon beringin dan saya harap bisa menjadi tempat tinggal bagi burung-burung. Akan menyenangkan sekali jika melihat sarang burung terjalin di cabang-cabangnya.

Dulunya pohon itu tidak ada. Saya awalnya mengira pohon itu ada di pekarangan tetangga. Tapi saat mulai tumbuh besar, barulah saya sadar pohon itu tumbuh di halaman kami. Pohon tersebut menciptakan iklim mikro yang sejuk di halaman rumah kami. Di tengah pemanasan global dan perubahan iklim yang sedang berlangsung, sudah seharusnya kita menjaga keberadaan pohon-pohon rindang.

(baca cerita pendek saya yang terinspirasi dari pohon beringin di sanatorium, di link ini)

Tinggalkan komentar

Filed under Kebun

Drainase untuk Kebun

Musim kemarau yang cukup panjang kali ini membuat kebun kami jadi gersang. Tidak banyak tumbuh rumput-rumput liar, tapi tanaman yang kami tanam nampak kurang segar walaupun sudah disiram. Mungkin karena volume penyiraman yang kurang banyak karena dalam beberapa hari kami sempat kesulitan air. Memasuki bulan Nopember, kami bersyukur hujan mulai turun.

Tanah di kebun kami termasuk jenis tanah latosol berwarna cokelat. Saat musim hujan, jenis tanah ini mudah mengikat air dalam jumlah besar sehingga menyebabkannya jadi liat. Hal tersebut akan mengurangi suplai oksigen untuk akar tanaman dan menyebabkan akar tanaman sulit menembus tanah. Sementara itu, di cuaca yang panas atau musim kemarau, jenis tanah ini dapat menjadi sekeras batu, membuatnya sulit digemburkan.

Untuk mengatasi kelebihan air selama musim hujan mendatang, kami membuat  drainase sederhana di kebun berdasarkan panduan yang saya peroleh dari The Gardening Year. Pertama-tama, kami membuat lubang sedalam 50 cm dengan alat biopori. Lalu ke dalam lubang diisi dengan batu-batu berukuran kecil hingga setengahnya. Di atasnya diberi lapisan daun-daun kering, kemudian ditutup lagi dengan tanah. Kami sudah membuat 10 titik drainase di kebun dengan jarak antardrainase sekitar 2 m.

IMG_20151107_081823

IMG_20151107_083423

Penanganan berikutnya, yang secara bertahap sudah kami lakukan, adalah pemberian materi organik, yaitu kompos dan pupuk kandang. Materi organik dapat memperbaiki struktur dan warna tanah, serta meningkatkan drainase dan aerasi pada tanah.

Tanah latosol merupakan jenis tanah yang cukup subur dan cocok untuk pertanian. Dengan penanganan dan pengolahan yang baik, tanah jenis ini akan memberikan hasil yang maksimal.

Semangat berkebun!

Tinggalkan komentar

Filed under Kebun

Rindang Pohonnya, Lezat Buahnya

Di area sekolah kami banyak ditanam pohon buah. Pohon-pohon tersebut ditanam sekitar 4,5 tahun yang lalu, sejak sekolah kami berdiri.

Di taman depan, setiap siswa maupun pengunjung akan disambut oleh pohon sukun yang berdiri dekat gerbang sekolah. Di tengah halaman depan, sepanjang jalur batas parkir terdapat bermacam-macam pohon buah. Pada jalur pertama yang sejajar dengan gerbang sekolah terdapat pohon jambu dan rambutan. Pada jalur kedua terdapat pohon jambu biji, duwet putih, dan ara. Beberapa di antaranya sudah bisa dinikmati buahnya.

Di area gazebo terdapat pohon mangga madu, pepaya, dan kersen. Masuk ke halaman samping sekolah, terdapat deretan pohon jeruk pecel, sirkaya, mangga, belimbing wuluh, jeruk bali, rambutan, dan pepaya. Ketika sudah berbuah, buah-buah tersebut tidak akan bertahan lama di pohon karena ada saja yang mengambil. Hitung-hitung perbaikan gizi.

Keberadaan pohon-pohon tersebut membuat suasana sekolah menjadi sejuk dan buahnya pun dapat dinikmati. Selain itu, berbagai jenis hewan mulai bermunculan sehingga tercipta ekosistem yang semakin kompleks.

Sebenarnya masih ada beberapa pohon buah lagi, tapi saya tidak tahu namanya. Informasi akan saya tambahkan setelah tahu pohon apa saja yang belum saya sebutkan. Winking smile

Tinggalkan komentar

Filed under Kebun

Kebun Unyu di Sekolah

IMG_20150617_073652

Di salah satu sudut halaman sekolah kami, sepetak kecil tanah diubah menjadi kebun tanaman obat. Sekitar setahun yang lalu, lahan yang awalnya tak terawat itu, dibuat bedengan-bedengan oleh tukang kebun sekolah. Sebelum dibedeng telah ada beberapa tanaman obat yang ditanam oleh teman-teman saat tahun ajaran baru. Namun, karena belum ada pembagian tugas untuk merawat kebun, ada tanaman yang mati karena kering. Tanaman yang masih bisa diselamatkan dipindahkan ke bedengan.

Sejak itu perawatan kebun tanaman obat dilakukan bergilir oleh semua kelas. Kegiatan ini berjalan selama satu semester. Tetapi melihat dari efektifitasnya, karena tidak semua murid terlibat, pada semester berikutnya dilakukan perekrutan untuk membuat tim kebun tanaman obat yang lebih solid. Maka, sejak bulan April 2015, mulailah terbentuk tim kebun tanaman obat, atau disebut tim Kebun Unyu.

IMG_20150407_151359

Kegiatan rutin yang kami lakukan adalah penyiraman tanaman setiap pagi hari dan pulang sekolah. Saat itu tidak semua anggota terlibat, tetapi bergantian. Sedangkan, pertemuan akbar tim Kebun Unyu dilakukan tidak rutin, setidaknya minimal satu bulan sekali. Saat semua anggota tim berkumpul, biasanya kami membersihkan kebun dari rumput-rumput liar, membuat kompos, menggemburkan tanah, dan diskusi terkait pengembangan kebun.

IMG_20150409_154205

IMG_20150617_090757

Memasuki tahun ajaran baru, anggota tim kebun semakin bertambah dari kelas XI, sementara kakak-kakak kelas XII tidak bisa terlibat dalam perawatan kebun karena sedang praktik kerja industri. Berikutnya kami juga ingin merekrut adik-adik kelas X yang tertarik untuk merawat dan mengembangkan kebun tanaman obat bersama kami. Salam Kebun Unyu.

IMG_20150602_085611

Tinggalkan komentar

Filed under Kebun

Bibit-bibit mungil

image

Menyemai benih itu mudah. Sangat mudah. Kita tahu yang paling dibutuhkan biji-biji mungil itu agar berkecambah adalah air.
Jadi, pertama-tama siapkan dulu tempat untuk menyemainya. Kalau aku menggunakan botol plastik bekas air mineral. Beri tanah secukupnya ke dalam wadah itu, lalu percikkan air hingga tanah cukup basah. Aku tidak melubangi bagian bawah wadah karena aku tidak akan menyiramkan banyak air.
Setelah itu, aku membuat lubang-lubang kecil dengan jarak sekitar 1 – 2 cm. Biji sawi dan tomat aku masukkan ke dalam lubang, lalu aku tutup lagi. Wadah penyemaian aku letakkan di tempat teduh yang terkena sinar matahari tak langsung, membuat mereka cukup lembab, tapi cukup terang agar tidak tumbuh jamur.
Penting sekali untuk melihat keadaan mereka setiap hari. Tanah harus dijaga agar tetap basah karena biji-biji mungil itu terus menyerap air. Mereka belum butuh sinar matahari, jadi jangan letakkan di tempat panas karena akan membuat tanah cepat kering.
Jadi, dua hari kemudian aku sudah bisa melihat sawi-sawi mungil yang sedang berjuang muncul di permukaan 😀 Benih tomat agak lama, sekitar lima hari baru mereka mau muncul.
Nah, setelah mereka punya daun, bolehlah jemur di luar sebentar. Sebentar aja ya. Aku membiarkan mereka berfotosintesis ria sekitar satu jam. Kadang setengah jam, takut kelupaan, bisa-bisa kering nanti >.<
Gampang kan menyemai benih 😀

Tinggalkan komentar

Filed under Kebun

Memandang Kebun

Akhir-akhir ini banyak sekali kesibukan. Sudah berbulan-bulan tidak mengurus kebun lagi. Sedihnyaaa… Walaupun masih banyak tanaman yang tumbuh di kebun, kalau tidak turun tangan sendiri itu rasanya gimanaaa gitu.

Ginseng Jawa masih ada, tumbuh dengan subur. Tadinya aku tanam dalam pot di teras. Karena sudah semakin banyak, dipindahkan oleh Ayahanda ke drum bekas yang dialihfungsikan menjadi pot raksasa setinggi lutut (gak ukur tingginya). Ceplukan sudah tidak ada karena batangnya rusak. Huwaaaa…. TT____TT Hanya bisa berharap akan tumbuh lagi secara liar karena aku tidak pungut bijinya.

Ayahanda juga hobi menanam. Beliau menanam biji-biji pepaya yang dulu aku beli saat bazaar di gereja (pepayanya yang aku beli, bukan bijinya). Rasa pepayanya mantap!

Selain itu, ada juga mangga madu. Ayahanda pernah dapat kiriman satu dus mangga madu plus alpukat dari temannya di luar kota. Untuk dibagi dengan teman lain di Semarang juga, sih. Rasa mangga madunya luar biasa! Sudah lama tidak makan mangga madu… >_< Terakhir kali makan saat aku masih kuliah di Jogja. Betapa nikmatnya mangga madu, yang paling enak di kerajaan mangga! XD Kalau biji alpukatnya aku tidak tahu, ditanam atau tidak.

Ada juga lombok Manado. Buahnya mantap, dipakai untuk masak sedikit saja sudah pedas! Lombok biasa yang kecil-kecil juga ada, pohonnya semakin banyak karena biji yang berjatuhan mudah sekali tumbuh.

Lalu ada kacang panjang hasil semaianku yang dipindahkan Ayahanda ke kebun dan diberi penyangga seadanya. Sudah mulai dipanen seminggu yang lalu. Lumayan untuk bahan masakan Ibunda 🙂 Beberapa pohon jagung yang disemai sendiri oleh Ayahanda saat ini pun sudah mulai berbunga 😀

Wah, aku belum cerita tentang suweg ya. Nama latinnya Amorphophallus paeoniifolius. Tanaman ini sudah lama ada di kebun kami. Saat ini sedang masa pertumbuhan fase vegetatif. Pada fase generatifnya akan muncul bunga yang baunya tidak enak.

Fase vegetatif suweg (A. paeoniifolius)

Fase vegetatif suweg (A. paeoniifolius)

Bunga suweg (A. paeoniifolius)

Bunga suweg (A. paeoniifolius)

Tanaman ini menghasilkan umbi yang bisa dipanen pada akhir masa fase vegetatif. Ketika daun-daunnya sudah mulai layu atau rebah ke tanah, umbinya bisa diambil. Aku tidak terlalu suka umbi suweg karena agak bergetah. Mungkin bisa diakali dengan proses pengolahan tertentu untuk menghilangkan getahnya.

Itulah macam-macam tanaman yang ada di kebun kami. Semoga aku bisa berkebun lagi supaya penampilan halaman depan rumahku lebih tertata. Banyak tanaman dalam pot yang terbengkalai >.<

Tinggalkan komentar

Filed under Kebun