Category Archives: Puisi dan Sajak

Dari butir kecil

Sebutir kecil kehidupan

hampir tak berarti

tanam dan rawat

dengan penuh kasih

butir kecil itu

‘kan tumbuh

bawa keindahan

dari dunia seberang

tanam dan rawat

dengan penuh kasih

butir kecil itu

‘kan tumbuh

beri perlindungan

bagi kau dan aku

beri kehidupan baru

bagi mereka

Iklan

2 Komentar

Filed under Puisi dan Sajak

Kidung Pohon

Jimmy Maruli Alfian

Bapak, kalau harus dilarang ngunduh bebuahan

kenapa kau tanam pohon itu di taman?

semisal kau tandur singkong atau mengkudu

tentu aku sangsi mendekat pohon yang kau berkati

singkong, sejak ketela itu merambat ke kedalaman

aku pun terkubur dalam tanah kecoklatan

membenam kata-kata

sampai ke dasar yang sedikit sekali hara

mengkudu, dengan roman bopeng lucu

dan bau yang memendam rahasia waktu

melengkapi prasangka bahwa tubuh

ngandung benih sengsara

ah, apakah tak lagi diberi zat

bagi tetumbuh yang akarnya sesat?

tumbuh sebagai lelaki tanpa daun

tak pernah tahan dengan musim apa pun

dirubung debu, dijangkiti penyakit kulit

lalu berlumut karena lembab di ujung mulut

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Puisi dan Sajak

Berfotosintesis

Lukas Nopembrian

Ada hara dalam bumi

Ada air permukaan dan bawahnya

Akar menusuk memecah gelap tanah menyebar merayap

Akar menekan hara dan air masuk dalam xylem

menyusur batang merayap terdesak tekanan akar

terisap daun terbuka pintu zat hijau terterpa mentari

Mari berfotosintesis

 

24 Mei 2012

Tinggalkan komentar

Filed under Puisi dan Sajak

Kolam di Pekarangan

Sapardi Djoko Darmono

/1/

Daun yang membusuk di dasar kolam itu masih juga tengadah ke ranting pohon jeruk yang dulu melahirkannya. Ia ingin sekali bisa merindukannya. Tak akan dilupakannya hari itu menjelang subuh hujan terbawa angin memutarnya pelahan, melepasnya dari ranting yang dibebani begitu banyak daun yang terus-menerus berusaha untuk tidak bergoyang. Ia tak sempat lagi menyaksikan matahari yang senantiasa hilang-tampak di sela-sela rimbunan yang kalau siang diharapkan lumut yang membungkus batu-batu dan menempel di dinding kolam itu. Ada sesuatu yang dirasakannya hilang di hari pertama ia terbaring di kolam itu, ada lembab angin yang tidak akan bisa dirasakannya lagi di dalam kepungan air yang berjanji akan membusukkannya segera setelah zat dikandungnya meresap ke pori-porinya. Ada gigil matahari matahari yang tidak akan bisa dihayatinya lagi yang berkas-berkas sinarnya suka menyentuh-nyentuhkan hangatnya pada ranting yang hanya berbisik jika angin lewat tanpa mengatakan apa-apa. Zat itu bukan cahaya matahari. Zat itu mnyebabkannya menyerah saja pada air yang tak pernah bisa berhenti bergerak karena ikan-ikan yang di kolam itu diperingatkan entah oleh Siapa dulu ketika waktu masih sangat purba untuk tidak pernah tidur. Ia pun bergoyang ke sana ke mari di atas hamparan batu kerikil yang mengalasi kolam itu. Tak pernah terbayangkan olehnya bertanya kepada batu kerikil mengapa kamu selalu memejamkan mata. Ia berharap bisa mengenal satu demi satu kerikil itu sebelum sepenuhnya membusuk dan menjadi satu dengan air seperti daun-daun lain yang lebih dahulu jatuh ke kolam itu. Ia tidak suka membayangkan daun lain yang kebetulan jatuh di kaki pohon itu, membusuk dan menjadi pupuk, kalau kebetulan luput dari sapu si tukang kebun.
*
Ia ingin sekali bisa merindukan ranting pohon jeruk itu.
*
Ingin sekali bisa merindukan dirinya sebagai kuncup.

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Puisi dan Sajak

Celah Bumi

Lili Jeneri

Inilah sebuah kisah
yang nelangsa menukik awan
menerobos celah-celah
kerak bumi nan kerontang

dengarlah gemercik air yang berdendang
bercerita tentang hijau yang punah
makhluk-makhluk menderita
dan jasad-jasad tak bernyawa

muka bumi yang buruk
tanpa cahaya hijau
di tengah hamparan padang gersang
yang menari bersama fatamorgana

di manakah tetesan bening sang air?
kucari di sela-sela kerak bumi.
namun sia-sia belaka.
yang ada hanyalah hamparan
asin yang melekat.
karna sang tawar berlari
ke dalam celah-celah yang merana.

Tinggalkan komentar

Filed under Puisi dan Sajak

L’air etait frais et pur (Udaranya sejuk dan alami)

Ivan Bastian

Riaknya bening berkicau hangat
Matahari terbangun membawa keceriaan
Embunnya gelorakan kesejukan
Liring bersenandung asa bersenyawa jiwa

Pohon rindang membelah jalan….
Berkerikil, berkelok-kelok, berliku-liku
Burung-burung berseloroh tak tersampaikan dalam alam
Lirih, syahdu, mengalir merdu
Merdu syahdu membawa lirih
Lirih dalam kedamaian….
Kedamaian dalam jiwa….
Di dalam….
L’air etait frais et pur

Jogjakarta

1 Komentar

Filed under Puisi dan Sajak

Hijau Lamunku

Lukas Nopembrian

kulukiskan hijaunya hijau lamunku, diselingi hijau angin kesejukan jati diri hijau sendiri merajut padang belantara damai yang masih hijau mengembara di lembaran jengkal telapak hijau kecil yang merekah hijau dari kuncup awal kembangnya segar menetes pada lumut yang tipis melekat pada pekatnya hijau hatimu. Menutup mata hijau lamunku yang menghijau.

Februari 2010

Tinggalkan komentar

Filed under Puisi dan Sajak