Category Archives: Kisah

Energi dari Hutan

Aku pernah berkunjung ke hutan itu. Dulu, dulu sekali. Aku ingat saat terkagum-kagum melihat batang-batang pohon yang besar, atap hutan yang hijau jauh di atasku, lantai hutan yang bergemerisik saat aku melangkahkan kaki kecilku. Aku juga ingat saat mendengar suara yang meneduhkan itu, hembusan angin yang membuat daun-daun dan dahan-dahan bergoyang saling bergesekan, juga suara berbagai macam binatang hutan. Semua itu terus tersimpan dalam diriku.
Aku akan berkunjung lagi ke sana. Apakah hutan itu masih sama seperti saat terakhir kali aku berkunjung dulu? Aku juga ingat ada perasaan lain yang bukan dikarenakan suasana hutan, tetapi aku lupa karena apa. Mungkin aku akan mengingatnya ketika telah tiba di sana.
Hutan itu tidak jauh berbeda seperti dulu, setidaknya itu kata pamanku. Tunas-tunas baru telah tumbuh, bunga-bunga mekar dan layu setiap musim berganti, pohon tua tumbang dan memberikan kehidupan baru. Banyak hal terjadi dalam hutan, tetapi hutan itu tetap tak terjamah karena merupakan Kawasan Cagar Alam, bahkan sejak sebelum aku dilahirkan.

Baca lebih lanjut

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Kisah

i want to be…

Aku melihatnya, seorang berpenampilan lusuh yang kadang terlihat di antara pepohonan. Wajahnya tidak tampak karena selalu tertutup bayangan pepohonan.
Aku bertanya-tanya, apa yang dilakukannya di sana, di tengah hutan yang gelap?
Aku pernah mendengar tentang penjaga di dalam hutan. Apakah dia?
Suatu hari aku bertanya pada kakek, “Apakah hutan itu milik penjaga hutan?”
Kakek menjawab dengan suara tuanya, “Tidak, hutan itu bukan milik siapa pun, hutan adalah milik hutan sendiri. Penjaga hutan hanya membantu menjaganya agar tidak terjadi hal yang buruk pada hutan.”
Aku bertanya lagi, “Lalu, di mana penjaga hutan tinggal? Apakah dia punya rumah di tengah hutan atau di tempat lain?”
Kakek kembali menjawab, “Penjaga hutan tinggal bersama hutan, hutan adalah rumahnya.”
Aku terdiam. Masih adakah orang seperti itu?
Setiap hari aku melihat ke arah hutan, berharap melihat kelebat sosok penjaga hutan. Saat itulah aku merasa aman dan tidak khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pada hutan.

Suatu sore kakiku terperosok ke dalam lubang perangkap ketika sedang berjalan-jalan sore di perbatasan hutan dan perkebunan. Lukanya cukup dalam dan lebar. Aku terduduk mengerang kesakitan di tanah, tidak berani bergerak. Lalu, seseorang menghampiriku. Seketika aku menjadi lega. Tapi, orang itu bukan orang yang biasa kulihat dan bukan orang yang kukenal. Penampilannya lusuh, dia berjalan dengan mantap ke arahku.
Aku memperhatikannya berlutut di depanku, mengamati luka di kakiku. Untuk sesaat aku hampir tidak mempedulikan luka itu. Orang yang menolongku berwajah keras, seperti telah menghadapi segala macam hal yang ada di dunia ini. Namun, tatapan matanya lembut dan berbinar cerah.
Aku tidak sadar dia telah mengeluarkan sesuatu dari tas kecil di pinggangnya dan menutupkannya ke lukaku. Aku menjerit karena rasanya sangat perih.
“Itu akan membantu mengeringkan lukanya.”
Aku tidak akan pernah melupakan suaranya yang dalam dan tegas. Setelah membalut lukaku dengan kain bersih yang dikeluarkan dari tasnya, dia membantuku berdiri.
“Aku akan mengantarmu sampai ke rumah.”
“Tapi hutannya… .”
Senyum terulas di wajahnya yang keras, membuatnya tampak lebih kebapakan.
“Hutan akan baik-baik saja ditinggal sebentar, menolong orang yang butuh pertolongan lebih penting.”
Penjaga hutan itu benar mengantarku sampai ke rumah. Dia meninggalkan sekantong kecil berisi daun-daunan yang bisa digunakan untuk mengobati lukaku.
“Lain kali berhati-hatilah,” ujarnya sebelum berbalik pergi.
Aku tidak bisa berkata banyak selain, “Terima kasih,” walaupun sebenarnya banyak sekali hal yang ingin kutanyakan.
Sejak itu aku berpikir apakah aku juga bisa seperti dia, menjadi seorang penjaga hutan.
“Berkat penjaga hutan, hutan masih tetap ada hingga kini,” aku mendengar kakek berkata.

Inspired from LOTR-The Fellowship of the Ring
2007

Tinggalkan komentar

Filed under Kisah