Beratapkan Langit

Hari ini diselimuti mendung. Langit tidak gelap, tetapi awan cukup tebal untuk menahan sinar matahari. Tetes-tetes kecil hujan pun turun. Suasana ini sangat kusuka.
Sambil menghirup aroma tanah yang basah, aku jadi teringat saat sedang berada di gunung, di antara pepohonan bersama teman-teman, mengelilingi api unggun yang menghangatkan kami di malam yang dingin dan lembab. Dengan tenda-tenda yang diatur mengelilingi api unggun, seakan menciptakan ruang aman bagi kami. Di luar itu, hanya ada kegelapan.
Suasana terasa sangat akrab ketika semua berkumpul untuk mendapatkan kehangatan dari nyala kuning-merah yang menari-nari. Di situlah kami, berbincang, meringkuk agar tidak kedinginan, menikmati susu atau teh panas sambil menghirup aroma kayu yang terbakar. Tak ada suara bising kendaraan bermotor, tak ada suara televisi, tak ada yang sibuk sendiri dengan ponselnya. Kami di sini, menyatu dengan alam, yang terdengar adalah suara serangga dan hewan malam, juga desau angin di antara pepohonan yang diramaikan suara canda tawa kami.
Semua itu meresap dalam diriku. Aku selalu menantikan saat-saat aku kembali berada di tengah hutan, menikmati malam beratapkan langit.


23 Agustus 2010

Tinggalkan komentar

Filed under Lamunan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s