Kidung Pohon

Jimmy Maruli Alfian

Bapak, kalau harus dilarang ngunduh bebuahan

kenapa kau tanam pohon itu di taman?

semisal kau tandur singkong atau mengkudu

tentu aku sangsi mendekat pohon yang kau berkati

singkong, sejak ketela itu merambat ke kedalaman

aku pun terkubur dalam tanah kecoklatan

membenam kata-kata

sampai ke dasar yang sedikit sekali hara

mengkudu, dengan roman bopeng lucu

dan bau yang memendam rahasia waktu

melengkapi prasangka bahwa tubuh

ngandung benih sengsara

ah, apakah tak lagi diberi zat

bagi tetumbuh yang akarnya sesat?

tumbuh sebagai lelaki tanpa daun

tak pernah tahan dengan musim apa pun

dirubung debu, dijangkiti penyakit kulit

lalu berlumut karena lembab di ujung mulut

kata bapak, pohon-pohon itu memiliki silsilah

yang setiap hari bercerita kepada cuaca

dengan akar menjalar sabar ke perut sungai

dan benang sari yang membuatku terikat janji

“Akulah pemilik taman, kau boleh main ayunan,

kemah bermalam-malam, memetik bebuahan

tapi tidak pohon yang ini!” Katamu sambil melingkari

batang dengan kawat duri dan memberi cat merah hati

sungguh, untuk apa kau tanam di sana

kalau hanya membuat rimbun sengketa?

sebagai anak, larangan ialah kehilangan

kau tahu, taman dan ladang rajin ku garu

tak pernah subur hama juga benalu

lihat, sebentar lagi buah-buah akan masak

maka biarkan aku menuai semua yang tampak

“Tapi tidak pohon itu!” Ulangmu

dengan suara sekencang angin petang

mata merah serupa matahari tenggelam

kelopak dan putik enggan bersitahan di dahan

tiba-tiba kukenang hutan yang jauh

lalu kukhayal kau membiarkanku

sasar dalam rimba ingatan

di antara bebatang angan-angan

di timur, nun matahari tengah uzur

cedar merah subur di lereng-lereng yang marah

dedaunannya lebat merupa jubah

tetapi seratnya gagal menyerap amis darah

di pinggang lereng mengalir lekas

sungai yang mencari muara cemas

ya, seharusnya aku tahu

dengan ribut mesiu mereka berebut sisa bukitmu

tanah yang dipagari perjanjian

denah yang dibatasi kematian

sedang dedaun khusyu’ menghadap ke barat

dengan ranting yang terus bersidekap

sulur-sulur lebat ialah janggut

menjadi rumah bagi hantu. bagi gerutu.

juga bagi usia yang bakal dikutuk waktu

bayangkan, sebuah taman, sebuah hutan

dan laki-laki yang cuma bercawat

oh, semakin kuhafal nama-nama

buah makin ranum dan rentan menggoda

aku pun bernafsu meski getah lengket di wajahku

aku pun lengket dengan lagu panen yang baru

Bapak, kalau harus dilarang ngunduh bebuahan

kenapa kau tanam pohon itu di taman?

Bapak, untuk apa kau tanam pepohon di sana

kalau hanya membuat rimbun sengketa?

biarlah ku tebang pohon laranganmu

agar kuganti singkong atau mengkudu

2006

(100 Puisi Indonesia Terbaik 2008—Anugerah Sastra Pena Kencana)

Tinggalkan komentar

Filed under Puisi dan Sajak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s