Daily Archives: September 12, 2015

Buah Kersen, si Mungil Besar Manfaat

E. W. M Verheij dan R. E. Coronel dalam Plant Resources of South-East Asia menuturkan buah kersen Muntingia calabura mengandung protein (2,1 gram), karbohidrat (17,9 gram), serat (6 gram), kalsium (125 mg), fosfor (94 mg), niasin (0,554 gram), vitamin A (0,015 gram), dan vitamin C (80,5 mg).

Selain bergizi, buah anggota famili Eleocarpaceae itu ternyata juga berkhasiat menurunkan gula darah penderita diabetes mellitus, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Tyas Eka Verdayanti dari Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur, pada 2009. Tyas Verdayanti menggunakan buah kersen matang dan dibuat jus tanpa menambahkan air atau 100% buah kersen.

Dalam riset tersebut, dia memberikan dosis yang berbeda pada tikus wistar jantan berumur 3 bulan berkadar gula darah di atas 200 mg/dl. Hasilmya perlakuan selama 21 hari mampu menurunkan kadar gula darah tikus berbobot rata-rata 200 g. Penurunan paling tinggi pada dosis 4 ml yaitu dari 214,414 mg/dl menjadi 110,811 mg/dl.

Senyawa paling berperan sebagai antidiabetes adalah niasin yang berfungsi menekan gula darah. Selain niasin, buah kersen mengandung asam askorbat  dan betakaroten. Senyawa tersebut bersifat antioksidan yang mampu menghambat radikal bebas sehingga mampu menyehatkan tubuh terutama pankreas.

Selain buah, daun kersen juga berkhasiat mengatasi diabetes. Riset oleh Dr. Ahmad Ridwan dan Rakhmi Ramdani dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung, membuktikan ekstrak etanol daun kersen manjur mengatasi diabetes mellitus. Mereka menggunakan dosis 0,13 mg per gram bobot tubuh yang mampu menurunkan gula darah sebesar 48,3% dalam waktu 15 hari.

Dengan demikian, baik buah maupun daun kersen terbukti menurunkan gula darah, tetapi jika dikonsumsi berlebihan bisa menyebabkan hipoglikemia atau gula darah rendah.

Sumber: Buah Lezat Musuh si Manis. Bondan Setyawan. Trubus Edisi 525 Agustus 2013/XLIV.

1 Komentar

Filed under Kesehatan

Pasangan Serasi Jati dan Mikoriza

Banyak interaksi terjadi di ekosistem. Salah satu contohnya adalah interaksi antara pohon jati (Tectona grandis) dengan mikoriza arbuskula. Mikoriza merupakan sejenis cendawan yang hidup di perakaran tanaman. Cendawan mikoriza arbuskula (CMA) memperbesar bibit jati hingga 3 m dalam 6 bulan. Tanpa makhluk mungil itu, tinggi tanaman cuma 1 m dalam waktu sama.

Mikoriza arbuskula mudah diperoleh, teknologi produksinya mudah dan sederhana. Mikoriza juga adaptif dan mampu berikatan dengan berbagai jenis tanaman, sampai 97% famili tanaman darat. Selain itu pemanfaatannya efektif dan tidak meninggalkan residu kimiawi sehingga bebas polusi. Kehadiran mikoriza juga memperbaiki granulasi tanah.

Jika diibaratkan, mikoriza itu seperti juru masak alias koki. Jati (Tectona grandis) penikmat hasil masakan. Hubungan mereka merupakan simbiosis mutualisme alias saling menguntungkan. Mikoriza memerlukan inang untuk hidup. Makhluk liliput itu menetap di perakaran jati dan di sanalah mikoriza memperoleh amilum hasil fotosintesis daun jati untuk menopang hidupnya. Pada saat bersamaan, cendawan memberikan partikel hara makro dan mikro melalui hifa.

Hifa alias benang halus mikoriza dapat berubah bentuk menjadi spora. Ketika akar jati tak mampu mengangkut unsur hara, hifa mengambil alih peran itu. Hifa mikoriza seperti perpanjang bulu akar. Ukuran hifa mikoriza (0,01 mm) jauh lebih kecil ketimbang bulu akar—lebih dari 1 mm—menyebabkan hifa leluasa menembus butiran tanah dan menyerap unsur hara. Mikoriza menyerap nitrogen dari udara dan memeras unsur fosfor dan kalium dari tanah lalu memberikan kepada tanaman. Hasilnya, tanaman yang hidup bersama mikoriza tumbuh subur.

Mikoriza bukan cuma bermanfaat ketika hidup. Saat hidupnya berakhir, mikoriza menjadi biomas yang ujung-ujungnya memberikan nutrisi untuk tanaman inangnya.

Dari cara mengikat akar, ada dua jenis mikoriza: ektomikoriza dan endomikoriza. Hifa ektomikoriza menginokulasi akar di satu titik, lalu terulur memanjang keluar. Sedangkan hifa endomikoriza menginokulasi akar di beberapa titik, lalu membelit dan membungkusnya. Contoh endomikoriza adalah CMA alias cendawan mikoriza arbuskular. Contoh ektomikoriza di antaranya mikoriza Glomus aggregatum.

 

Sumber: Koki Cilik untuk sang Bangsawan. Argohartono Arie Raharjo. Trubus Edisi 490 September 2010/XLI

Tinggalkan komentar

Filed under Artikel