Energi dari Hutan

Aku pernah berkunjung ke hutan itu. Dulu, dulu sekali. Aku ingat saat terkagum-kagum melihat batang-batang pohon yang besar, atap hutan yang hijau jauh di atasku, lantai hutan yang bergemerisik saat aku melangkahkan kaki kecilku. Aku juga ingat saat mendengar suara yang meneduhkan itu, hembusan angin yang membuat daun-daun dan dahan-dahan bergoyang saling bergesekan, juga suara berbagai macam binatang hutan. Semua itu terus tersimpan dalam diriku.
Aku akan berkunjung lagi ke sana. Apakah hutan itu masih sama seperti saat terakhir kali aku berkunjung dulu? Aku juga ingat ada perasaan lain yang bukan dikarenakan suasana hutan, tetapi aku lupa karena apa. Mungkin aku akan mengingatnya ketika telah tiba di sana.
Hutan itu tidak jauh berbeda seperti dulu, setidaknya itu kata pamanku. Tunas-tunas baru telah tumbuh, bunga-bunga mekar dan layu setiap musim berganti, pohon tua tumbang dan memberikan kehidupan baru. Banyak hal terjadi dalam hutan, tetapi hutan itu tetap tak terjamah karena merupakan Kawasan Cagar Alam, bahkan sejak sebelum aku dilahirkan.

Ayo, kita jalan-jalan ke hutan. Dia meraih tanganku dan setengah menarikku. Apa? Memang boleh?
Aku biasanya cuma melihat hutan itu dari kejauhan, hanya dari rumah paman. Aku tidak pernah berniat ingin ke sana karena halaman rumah paman sendiri sudah cukup menyenangkan untukku. Luas dan banyak pohonnya, tidak seperti halaman rumahku yang sempit dengan beberapa pohon saja dan pot-pot tanaman hias. Halaman rumah paman sudah bisa dibilang hutan kalau dibandingkan dengan halaman rumahku.
Tapi dia datang dan mengajakku untuk pergi ke hutan yang sebenarnya. Aku merasakan sesuatu yang bergemuruh di dalam dadaku. Bukan cuma detakan jantungku, tapi sesuatu yang lain. Aku biasanya cuma melihat hutan itu dari kejauhan, gelombang hijau pekat yang misterius.
Ayo. Dia menarik tanganku, tapi aku tak bergerak. Kenapa?
Aku melepaskan tanganku dari genggamannya dan berlari ke rumah. Aku menemukan papa dan mama sedang ada di ruang tamu, berbincang dengan seseorang yang tak kukenal. Mereka berhenti ketika melihatku datang tiba-tiba dan ngos-ngosan.
Kenapa Risa? Mama bertanya padaku.
Aku mau jalan-jalan ke hutan.
Aku melihat papa dan mama saling berpandangan. Boleh kan, Pa, Ma?
Sama siapa, Sayang? Mama bertanya lagi.
Sama saya, Bu.
Aku menoleh, ternyata dia mengikutiku ke rumah.
Oh, biar saja, Mas, aman kalau sama dia, sudah biasa main di hutan. Paman datang menghampiriku dan mengelus kepalaku.
Ya sudah, tapi jangan lama-lama.
Aku merasakan senyumku terkembang. Makasih, Pa, Ma.
Hati-hati. Mama mengingatkan.
Senyumku masih terus terkembang ketika kami berjalan menuju hutan.

Aku ingat pohon itu. Batangnya yang bengkok pernah kupanjat. Juga pohon di sebelahnya yang pangkal batangnya berlekuk seperti membentuk gua kecil. Aku dulu yakin kalau ada binatang yang tinggal di dalam sana. Aku sekarang berjongkok di depan pohon itu, melongok untuk kedua kalinya. Ah, gua itu jadi lebih kecil dari yang kuingat.
Tiba-tiba aku merasakan gelombang de javu. Tidak mengherankan, tapi terasa aneh. Aku seharusnya tidak pergi sendirian. Bukan karena takut, tapi ada seseorang yang seharusnya ada bersamaku saat ini.
Hembusan angin yang membuat daun bergemerisik lembut membuyarkan lamunanku. Aku menatap ke atas. Atap hutan tampak begitu tinggi di atasku, langit yang biru hanya tampak sebagai potongan-potongan kecil di atas sana. Aku menutup mata dan menarik napas dalam-dalam. Udara yang segar masuk ke paru-paruku, memenuhi diriku dengan energi hutan yang murni. Hutan ini berdenyut lembut dan aku bagian darinya.

Jangan jauh-jauh dari aku, nanti nyasar.
Aku merasa sangat senang. Ternyata lebih menyenangkan dibandingkan halaman rumah paman.
Dia menerangkan berbagai macam hal padaku tentang hutan itu. Pohon-pohon, burung-burung, bunga-bunga, tunas-tunas baru di lantai hutan, banyak hal. Tapi aku begitu terkagum-kagum hingga tak bisa mengingat semuanya.
Aku menengadah menatap dahan-dahan pohon yang tinggi dan daunnya yang lebat. Aku merentangkan tanganku sambil berputar. Sangat asik, aku seperti melayang di tengah hutan.
Tiba-tiba aku menabraknya. Kami tertawa. Hati-hati, nanti jatuh.

Oh, aku hampir lupa kalau ada danau di hutan ini. Masih jernih seperti dulu. Tapi dulu aku tak berani masuk ke air karena aku belum bisa berenang. Jadi hanya bermain lempar batu dan membasuh kakiku di sungai kecil tak jauh dari danau. Sungai itu pun masih sama seperti dulu. Aku mencuci mukaku di sana. Airnya terasa segar.
Hai, aku dengar kau kembali.
Suara itu mengejutkanku. Aku melihat seseorang duduk di atas dahan sebuah pohon di seberang sungai dangkal itu.
Siapa? Pikirku.
Kamu lupa? Dia berayun dengan tangannya pada dahan pohon itu kemudian melompat ke tanah yang jaraknya hanya dua meter.
Ketika melompat di atas batu-batu sungai, wajahnya terkena sinar matahari. Dalam waktu yang singkat aku mengingat anak laki-laki yang mengajakku ke hutan, suaranya yang bersemangat ketika menerangkan berbagai hal padaku, senyum riangnya, dan genggaman tangannya yang membuatku merasa aman.
Apa kabar? Dia tersenyum ketika sudah berada di depanku.
Senyumku pun merekah.
Ayo, ada satu tempat yang belum sempat kutunjukkan. Dia meraih tanganku dan menarikku, persis seperti dulu. Tapi saat ini aku langsung mengikutinya.
Kami ke bagian hutan yang lebih rapat dan jalan yang kami lalui agak menanjak, kemudian samar-samar aku mendengar suara gemuruh yang terus menerus. Air terjun?
Dia hanya diam, terus berjalan di jalan setapak yang hampir tak terlihat.
Lalu tiba-tiba tak ada pohon dan semak lagi.
Aku begitu terpana pada pemandangan di hadapanku. Tempat itu sangat indah. Seperti danau yang tadi, hanya saja yang ini ada air terjunnya dan dikelilingi oleh tebing.
Ayo. Dia sudah berjalan di pinggir kolam dan mulai menaiki batu-batu yang membentuk seperti anak tangga. Aku mengikutinya. Pemandangan dari atas lebih indah. Aku tidak sadar kalau tubuhku jadi condong dengan sendirinya hingga dia menarik pergelangan tanganku.
Hati-hati. Katanya sambil tertawa, entah karena apa.
Kami pun tiba di puncak tempat air mengalir hingga jatuh tegak lurus menuju kolam di bawah. Tidak terlalu tinggi sebenarnya, hanya air terjun kecil, tapi tetap mengagumkan. Alirannya cukup deras. Aku merasakan sesuatu berdesir di dalam dadaku. Tentu dia mengajakku ke sini bukan hanya untuk menikmati pemandangan.
Aku menoleh dan ternyata dia sedang melihat padaku.
Apa?
Kamu siap?

Ternyata dia tak merasa perlu menerangkan padaku. Aku mengangguk. Debaran jantungku semakin kencang.
Dia berjalan mundur beberapa langkah kemudian berlari kencang dan tiba-tiba saja hilang dari pandangan sambil berteriak keras. Aku mengikuti caranya.
Aku mengeluarkan semua isi dadaku saat kakiku tak lagi menyentuh tanah. Badanku terasa ringan. Gemuruh memenuhi telingaku. Aku sempat melihatnya menghilang saat menyentuh permukaan kolam, tak berapa lama aku merasakan air yang dingin itu menghantam tubuhku. Tiba-tiba hening. Sensasi itu tak akan bisa kulupakan.
Aku memejamkan mataku untuk mematrikan sensasi itu. Ketika aku membuka mata, dia sudah ada di hadapanku, nyengir lebar. Aku tak terkejut, aku merasa senang.
Dia tampak sangat berbeda ketika berada dalam air. Lagi-lagi dia menggenggam tanganku. Kami keluar dari air bersama-sama dan tertawa lepas. Air kolam itu sangat jernih. Walau cukup dalam, aku bisa melihat dasarnya yang berupa batu-batu gemerlap karena sinar matahari mencapai dasar, ada yang berwarna gelap maupun terang.
Aku menyelam menuju dasar, saat aku akan meraih salah satu batu, tangannya menahan tanganku. Aku melihatnya menggeleng. Aku pun menarik tanganku. Kami berenang menuju pinggir kolam, bagian yang lebih tenang.
Napasku agak ngos-ngosan. Sudah lama aku tidak berenang. Aku pun duduk bersandar pada salah satu batu besar sambil menatap air terjun yang terus bergemuruh. Ternyata dia tidak naik bersamaku, dia masih berenang lagi di kolam. Aku melihatnya berenang di bawah permukaan air.
Siapa dia itu? Untuk pertama kalinya aku bertanya-tanya. Dia bagian dari ingatan masa kecilku, walau begitu aku tak tahu namanya. Atau aku lupa? Aku tak bisa mengingatnya.
Akhirnya dia berenang ke pinggir dan keluar dari air, berjalan ke arahku. Dia melepas sepatu sandalnya yang lusuh dan dijemur di atas batu, di sebelah sepatu sandalku yang jadinya tampak seperti baru.
Dia meminta izin untuk melepas kaosnya, sopan sekali, lalu duduk tak jauh di sebelahku.

Tutup matamu.
Kenapa?
Tutup saja.
Aku menurut walau merasa heran.
Hirup napas dalam-dalam. Aku melakukannya. Dadaku pun penuh dengan udara hutan yang segar. Aku mendengar gemerisik lembut, nyanyian burung yang saling sahut-menyahut di kejauhan. Aku merasakan hutan ini hidup dan berdetak.
Tanpa sadar aku tertawa kecil.
Dia menyentuh kedua tanganku. Tetap tutup matamu. Dan mengangkatnya ke samping. Tanganku terentang. Aku kembali merasa melayang. Melayang bersamanya.

Aku membuka mataku dan merasa seperti terjatuh, jantungku berdebar sangat kencang. Ternyata aku ketiduran.
Aw! Dia memercikkan air ke arahku.
Mau berenang lagi?
Aku belum menjawab, tapi dia sudah kembali menghilang ke dalam air. Aku pun berdiri dan menyusulnya. Kami berenang sampai sore. Menyenangkan.
Aku harus pulang. Aku ingin sampai di rumah sebelum gelap.
Tunggu. Aku baru saja selesai mengenakan sepatu sandalku ketika dia menyentuh pergelangan tanganku.
Matanya yang kecokelatan menatap mataku.
Tutup matamu.
Aku langsung menurutinya. Kali ini hanya gemuruh air terjun yang kudengar. Aku merasakan jemarinya menyentuh dahiku, merapikan rambut yang menutupi wajahku, menyelipkannya ke belakang telingaku.
Aku berharap kamu bisa ingat semuanya. Dia berbisik di telingaku, membuatku agak merinding. Napasnya yang lembab terasa menggelitik di telingaku. Tangannya menyentuh tanganku dan menggenggamnya lembut. Dadaku berdetak semakin kencang. Gemuruh air terjun seakan semakin keras.
Dan sebelum aku sadar, bibir lembutnya telah menyentuh bibirku.
Semua ingatan itu berkelebat. Hutan, cerita-ceritanya, pohon, kami melayang bersama, sayap-sayap kecil transparan.
Rasanya lama sekali bibir kami bersentuhan, padahal hanya sekejap. Aku terhuyung, dia meraihku agar tidak jatuh. Untung dia melakukannya.
Ketika aku menoleh ke arah kolam, aku melihat cahaya kecil putih melayang-layang. Jumlah mereka banyak sekali. Dan aku bisa melihat kalau mereka adalah peri air. Sayap merekalah yang bersinar, bagaikan tetesan air.
Sejak kapan mereka ada di situ? Aku bertanya padanya. Dia hanya tersenyum dan menelengkan kepalanya.
Mereka selalu berada di sana. Aku menjawabnya sendiri.
Aku tak akan pernah melupakan kolam air terjun yang penuh dengan cahaya mungil itu. Pemandangan yang sangat indah.
Sepanjang perjalanan pulang, aku melihat juga banyak jenis yang lain, menyatu bersama hutan. Aku ingat dulu pernah bertemu dengan mereka semua, dan mereka juga mengingatku.
Kamu terlalu lama di kota.
Ya, benar juga.

Semakin dekat dengan tepi hutan, cahaya-cahaya kecil itu tak tampak lagi.
Ketika tiba di jajaran pohon terakhir, kami berhenti.
Hutan ini masih berdetak, kamu bisa merasakannya. Tapi tak banyak hutan lain yang masih berdetak.
Aku merasakan dadaku sakit. Perkataannya benar.
Kamu bisa membuat mereka berdetak lagi.
Napasku tertahan menatapnya. Matanya begitu yakin menatapku.
Kamu tahu caranya.
Dia menggenggam tanganku, menghilangkan semua keraguanku. Wajahnya mendekat, dan berbisik di telingaku, teman-temanmu akan membantumu.
Aku tidak tahu, siapakah yang dia maksud sebagai teman-teman, tapi aku percaya padanya.
Aku akan menjaga hutan ini. Kamu, menyelamatkan hutan yang lain.
Aroma hutan itu takkan pernah kulupakan ketika dia kembali mencium bibirku dan memasukkan sesuatu dengan lidahnya ke mulutku. Sesuatu itu lumer di lidahku, terasa manis masam. Aku ingin kamu terus mengingatku.
Kami berpisah di jalan setapak yang bercabang. Aku kembali berjalan sendiri.
Cara yang bagus untuk membuatku mengingat. Rasa manis masam itu masih terasa di lidahku. Seperti buah beri masam yang dilumeri madu. Aku tak pernah menemukan sensasi rasa seperti itu lagi.

Tinggalkan komentar

Filed under Kisah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s