Monthly Archives: September 2010

Kolam di Pekarangan

Sapardi Djoko Darmono

/1/

Daun yang membusuk di dasar kolam itu masih juga tengadah ke ranting pohon jeruk yang dulu melahirkannya. Ia ingin sekali bisa merindukannya. Tak akan dilupakannya hari itu menjelang subuh hujan terbawa angin memutarnya pelahan, melepasnya dari ranting yang dibebani begitu banyak daun yang terus-menerus berusaha untuk tidak bergoyang. Ia tak sempat lagi menyaksikan matahari yang senantiasa hilang-tampak di sela-sela rimbunan yang kalau siang diharapkan lumut yang membungkus batu-batu dan menempel di dinding kolam itu. Ada sesuatu yang dirasakannya hilang di hari pertama ia terbaring di kolam itu, ada lembab angin yang tidak akan bisa dirasakannya lagi di dalam kepungan air yang berjanji akan membusukkannya segera setelah zat dikandungnya meresap ke pori-porinya. Ada gigil matahari matahari yang tidak akan bisa dihayatinya lagi yang berkas-berkas sinarnya suka menyentuh-nyentuhkan hangatnya pada ranting yang hanya berbisik jika angin lewat tanpa mengatakan apa-apa. Zat itu bukan cahaya matahari. Zat itu mnyebabkannya menyerah saja pada air yang tak pernah bisa berhenti bergerak karena ikan-ikan yang di kolam itu diperingatkan entah oleh Siapa dulu ketika waktu masih sangat purba untuk tidak pernah tidur. Ia pun bergoyang ke sana ke mari di atas hamparan batu kerikil yang mengalasi kolam itu. Tak pernah terbayangkan olehnya bertanya kepada batu kerikil mengapa kamu selalu memejamkan mata. Ia berharap bisa mengenal satu demi satu kerikil itu sebelum sepenuhnya membusuk dan menjadi satu dengan air seperti daun-daun lain yang lebih dahulu jatuh ke kolam itu. Ia tidak suka membayangkan daun lain yang kebetulan jatuh di kaki pohon itu, membusuk dan menjadi pupuk, kalau kebetulan luput dari sapu si tukang kebun.
*
Ia ingin sekali bisa merindukan ranting pohon jeruk itu.
*
Ingin sekali bisa merindukan dirinya sebagai kuncup.

Baca lebih lanjut

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Puisi dan Sajak

Celah Bumi

Lili Jeneri

Inilah sebuah kisah
yang nelangsa menukik awan
menerobos celah-celah
kerak bumi nan kerontang

dengarlah gemercik air yang berdendang
bercerita tentang hijau yang punah
makhluk-makhluk menderita
dan jasad-jasad tak bernyawa

muka bumi yang buruk
tanpa cahaya hijau
di tengah hamparan padang gersang
yang menari bersama fatamorgana

di manakah tetesan bening sang air?
kucari di sela-sela kerak bumi.
namun sia-sia belaka.
yang ada hanyalah hamparan
asin yang melekat.
karna sang tawar berlari
ke dalam celah-celah yang merana.

Tinggalkan komentar

Filed under Puisi dan Sajak

L’air etait frais et pur (Udaranya sejuk dan alami)

Ivan Bastian

Riaknya bening berkicau hangat
Matahari terbangun membawa keceriaan
Embunnya gelorakan kesejukan
Liring bersenandung asa bersenyawa jiwa

Pohon rindang membelah jalan….
Berkerikil, berkelok-kelok, berliku-liku
Burung-burung berseloroh tak tersampaikan dalam alam
Lirih, syahdu, mengalir merdu
Merdu syahdu membawa lirih
Lirih dalam kedamaian….
Kedamaian dalam jiwa….
Di dalam….
L’air etait frais et pur

Jogjakarta

1 Komentar

Filed under Puisi dan Sajak

Beratapkan Langit

Hari ini diselimuti mendung. Langit tidak gelap, tetapi awan cukup tebal untuk menahan sinar matahari. Tetes-tetes kecil hujan pun turun. Suasana ini sangat kusuka.
Sambil menghirup aroma tanah yang basah, aku jadi teringat saat sedang berada di gunung, di antara pepohonan bersama teman-teman, mengelilingi api unggun yang menghangatkan kami di malam yang dingin dan lembab. Dengan tenda-tenda yang diatur mengelilingi api unggun, seakan menciptakan ruang aman bagi kami. Di luar itu, hanya ada kegelapan.
Suasana terasa sangat akrab ketika semua berkumpul untuk mendapatkan kehangatan dari nyala kuning-merah yang menari-nari. Di situlah kami, berbincang, meringkuk agar tidak kedinginan, menikmati susu atau teh panas sambil menghirup aroma kayu yang terbakar. Tak ada suara bising kendaraan bermotor, tak ada suara televisi, tak ada yang sibuk sendiri dengan ponselnya. Kami di sini, menyatu dengan alam, yang terdengar adalah suara serangga dan hewan malam, juga desau angin di antara pepohonan yang diramaikan suara canda tawa kami.
Semua itu meresap dalam diriku. Aku selalu menantikan saat-saat aku kembali berada di tengah hutan, menikmati malam beratapkan langit.


23 Agustus 2010

Tinggalkan komentar

Filed under Lamunan

i want to be…

Aku melihatnya, seorang berpenampilan lusuh yang kadang terlihat di antara pepohonan. Wajahnya tidak tampak karena selalu tertutup bayangan pepohonan.
Aku bertanya-tanya, apa yang dilakukannya di sana, di tengah hutan yang gelap?
Aku pernah mendengar tentang penjaga di dalam hutan. Apakah dia?
Suatu hari aku bertanya pada kakek, “Apakah hutan itu milik penjaga hutan?”
Kakek menjawab dengan suara tuanya, “Tidak, hutan itu bukan milik siapa pun, hutan adalah milik hutan sendiri. Penjaga hutan hanya membantu menjaganya agar tidak terjadi hal yang buruk pada hutan.”
Aku bertanya lagi, “Lalu, di mana penjaga hutan tinggal? Apakah dia punya rumah di tengah hutan atau di tempat lain?”
Kakek kembali menjawab, “Penjaga hutan tinggal bersama hutan, hutan adalah rumahnya.”
Aku terdiam. Masih adakah orang seperti itu?
Setiap hari aku melihat ke arah hutan, berharap melihat kelebat sosok penjaga hutan. Saat itulah aku merasa aman dan tidak khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pada hutan.

Suatu sore kakiku terperosok ke dalam lubang perangkap ketika sedang berjalan-jalan sore di perbatasan hutan dan perkebunan. Lukanya cukup dalam dan lebar. Aku terduduk mengerang kesakitan di tanah, tidak berani bergerak. Lalu, seseorang menghampiriku. Seketika aku menjadi lega. Tapi, orang itu bukan orang yang biasa kulihat dan bukan orang yang kukenal. Penampilannya lusuh, dia berjalan dengan mantap ke arahku.
Aku memperhatikannya berlutut di depanku, mengamati luka di kakiku. Untuk sesaat aku hampir tidak mempedulikan luka itu. Orang yang menolongku berwajah keras, seperti telah menghadapi segala macam hal yang ada di dunia ini. Namun, tatapan matanya lembut dan berbinar cerah.
Aku tidak sadar dia telah mengeluarkan sesuatu dari tas kecil di pinggangnya dan menutupkannya ke lukaku. Aku menjerit karena rasanya sangat perih.
“Itu akan membantu mengeringkan lukanya.”
Aku tidak akan pernah melupakan suaranya yang dalam dan tegas. Setelah membalut lukaku dengan kain bersih yang dikeluarkan dari tasnya, dia membantuku berdiri.
“Aku akan mengantarmu sampai ke rumah.”
“Tapi hutannya… .”
Senyum terulas di wajahnya yang keras, membuatnya tampak lebih kebapakan.
“Hutan akan baik-baik saja ditinggal sebentar, menolong orang yang butuh pertolongan lebih penting.”
Penjaga hutan itu benar mengantarku sampai ke rumah. Dia meninggalkan sekantong kecil berisi daun-daunan yang bisa digunakan untuk mengobati lukaku.
“Lain kali berhati-hatilah,” ujarnya sebelum berbalik pergi.
Aku tidak bisa berkata banyak selain, “Terima kasih,” walaupun sebenarnya banyak sekali hal yang ingin kutanyakan.
Sejak itu aku berpikir apakah aku juga bisa seperti dia, menjadi seorang penjaga hutan.
“Berkat penjaga hutan, hutan masih tetap ada hingga kini,” aku mendengar kakek berkata.

Inspired from LOTR-The Fellowship of the Ring
2007

Tinggalkan komentar

Filed under Kisah

Hijau Lamunku

Lukas Nopembrian

kulukiskan hijaunya hijau lamunku, diselingi hijau angin kesejukan jati diri hijau sendiri merajut padang belantara damai yang masih hijau mengembara di lembaran jengkal telapak hijau kecil yang merekah hijau dari kuncup awal kembangnya segar menetes pada lumut yang tipis melekat pada pekatnya hijau hatimu. Menutup mata hijau lamunku yang menghijau.

Februari 2010

Tinggalkan komentar

Filed under Puisi dan Sajak

Hutan Kalsel

Victor Roesdianto

Berliku jalan Banjarbaru-Batu Licin
bersiut angin kehilangan dingin
konon dulu di sini tumbuh jutaan ulin
kini tinggal pokok-pokok dan akar
tertebar dalam radius ribuan hektar

Kalimantan Selatan
Riap lebat hutanmu raib
Legenda pun lenyap

Stagen-Pulau Laut (Kalsel), 1994

Tinggalkan komentar

Filed under Puisi dan Sajak